Wednesday, March 10, 2010

istiqamah, istiqarah dan istighfar

Muslim sejati akan sentiasa mengingati Pencipta sekalipun berdepan dengan cabaran

UNTUK berdepan cabaran hidup, kita perlu memiliki pegangan dan amalan iaitu istiqamah, istiqarah dan istighfar.

Istiqamah dapat ditakrifkan sebagai: "kukuh dalam akidah dan konsisten dalam beribadah". Pentingnya istiqamah ini dapat dilihat daripada sabda Nabi SAW yang bermaksud, dari Abi Sufyan bin Abdullah berkata, " Aku telah berkata, 'Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu bertanya kepada orang lain selain engkau'. Nabi menjawab: "Katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah'." (Hadis Riwayat Muslim).

Orang yang istiqamah selalu kukuh dalam akidah dan tidak goyang keimanan dalam menghadapi hidupnya. Walaupun ia dihadapkan dengan persoalan hidup, ibadatnya tidak ikut surut. Ia tetap memperhatikan haram halal walaupun sakunya kering atau tebal. Sujud pantang berhenti, sekalipun dicaci dipuji. Ia hidup dalam kenikmatan, namun tidak tergoda melakukan maksiat.

Orang seperti ini dipuji Allah SWT melalui firman yang bermaksud: "Sesungguhnya orang yang mengatakan: 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): 'Janganlah kamu rasa takut, dan janganlah kamu rasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang dijanjikan Allah kepadamu'" ( Fusshilat: 30)



Istiqarah pula dapat didefinisikan sebagai, selalu mohon petunjuk Allah SWT dalam setiap langkah dan penuh pertimbangan dalam setiap keputusan.

Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu perbuatan. Namun, menurut Islam, tidak ada kebebasan tanpa batas, dan batas itu adalah aturan agama. Maka seorang Muslim yang benar, selalu berfikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan atau mengucapkan sebuah ucapan serta ia selalu mohon petunjuk kepada Allah SWT.

Nabi SAW bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhirat, maka berkatalah yang baik atau diamlah. (Hadis Al-Bukhari dan Muslim). Orang bijak selalu berkata, berfikirlah hari ini dan berbicaralah esok hari.

Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakitkan orang lain, maka tahanlah, jangan diucapkan, sekalipun menahan ucapan itu terasa sakit. Tapi kalau ucapan itu benar dan baik maka katakanlah, jangan ditahan sebab lidah kita menjadi lemas untuk meneriakkan kebenaran dan keadilan serta menegakkan amal makruf nahi mungkar.



Mengenai kebebasan ini, malaikat Jibril pernah datang kepada Muhammad SAW untuk memberikan rambu-rambu kehidupan. Baginda bersabda yang bermaksud, "Jibril datang kepadaku dan berkata: 'Hai Muhammad hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu saat akan mati. Cintailah apa yang engkau sukai tapi engkau suatu saat pasti berpisah juga dan lakukanlah apa yang engkau inginkan, sesungguhnya semua itu ada balasannya,'" (Hadis Baihaqi dari Jabir).

Sabda Nabi SAW ini semakin penting untuk diresapi ketika akhir-akhir ini dengan dalih kebebasan. Banyak orang berbicara tanpa logik dan data yang benar dan bertindak sesuka hati tanpa mengendahkan etika agama.

Kita memasyarakatkan istiqarah dalam segala langkah kita, agar kita benar-benar bertindak secara benar dan tidak menimbulkan kekecewaan pada kemudian hari.

Nabi Muhammad SAW bersabda yang bermaksud: "Tidak akan rugi orang yang beristiqarah, tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah dan tidak akan miskin orang yang hidupnya hemat. (Hadis Thabrani dari Anas)



Istighfar pula dapat diertikan sebagai bermuhasabah diri dan mohon ampun kepada Allah SWT. Setiap orang pernah melakukan kesalahan, sama ada kesalahan individu atau kesalahan sebagai sebuah bangsa. Setiap kesalahan dan dosa itu sebenarnya penyakit yang merosak kehidupan kita, ia harus diubati.

Banyak persoalan besar yang kita hadapi akhir-akhir ini adalah akibat kesalahan kita sendiri. Muhasabah diri dan pohonlah keampunan kepada Allah SWT. Buatlah pembetulan untuk masa depan yang lebih cerah dengan penuh keredaan Allah SWT.

Dalam persoalan ekonomi, jika rezeki Allah SWT tidak sampai kepada kita disebabkan kita malas, maka yang perlu diubati adalah sifat malas itu. Kita tidak boleh menjadi umat pemalas. Malas adalah sebahagian musuh kita.

Namun, ada kalanya kehidupan sosial ekonomi sebuah bangsa yang mengalami kesulitan. Kesulitan itu disebabkan dosa masa lalu yang bertompok dan belum bertaubat darinya. Jika itu penyebabnya, maka satu-satunya ubat adalah beristighfar dan bertaubat.

Firman Allah SWT yang mengisahkan seruan Nabi Hud kepada kaumnya yang bermaksud, "Dan (Hud) berkata, hai kaumku, mohonlah ampun kepada tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, nescaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa" (Hud: 52)

Masjid Bukit Indah Ampang
http://www.masjidbukitindahampang.com/

1 comments:

★HIS∀⅂ƎSerra☆ said...

wsalam..terimakah sahabat..sudi berkongsi ilmu